PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMA


PENELITIAN TINDAKAN KELAS SMA  - Sebagai bahan referensi bagi bapak ibu yang ingin membuat sebagai bahan untuk memenuhi salah syarat kenaikan pangkat dari golongan III/b s.d IV/e

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
DENGAN METODE DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS II GB SMK I REMBANG TAHUN AJARAN 2016/2017 DALAM MEMAHAMI INFORMASI VERBAL DAN NONVERBAL















DINAS PENDIDIKAN
PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN REMBANG
                                                                                                

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
DENGAN METODE DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS II GB SMK I REMBANG TAHUN AJARAN 2016/2017 DALAM MEMAHAMI INFORMASI VERBAL DAN NONVERBAL


ABSTRAK

C.    Endah W.2009. Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Metode Discovery   untuk meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II Gb SMK I Rembang Tahun ajaran 2016-2017 dalam Memahami Informasi verbal dan nonverbal. Penelitian Tindakan Kelas.
                    Sebagai pemakai bahasa Indonesia sudah seharusnya kita mampu memahami dan mengetahui informasi yang terdapat dalam suatu wacana. Dalam suatu wacana kita sering menemukan informasi berupa informasi verbal dan nonverbal. Informasi verbal ialah informasi yang berupa uraian kalimat. Di dalam informasi tersebut kita dapat menemukan data-data yang mendukung informasi tersebut. Informasi nonverbal adalah informasi yang berbentuk grafik  ( grafik garis, grafik batang, grafik lingkaran ), denah, diagram, table, matrik dll.
                    Memahami informasi verbal dan nonverbal merupakan salah satu materi yang harus diajarkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas II SMK. Kelas II GB SMK I Rembang tahun ajaran 2016-2017 dijadikan subjek penelitian karena pemahaman mereka terhadap informasi verbal dan nonverbal kurang. Selain itu kelas tersebut dikenal juga sebagai kelas yang kurang memiliki motif belajar.
                    Dalam penelitian ini digunakan penelitian Tindakan Kelas, dengan menggunakan metode discovery. Metode discovery sela SMK I Rembang, tahun ajaran 2016/2017. Metode Discovery merupakan komponen dari praktik pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, berorientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif.      Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah , siswa  dianggap berhasil, apabila siswa kelas II Gb tahun ajaran 2016-2017 yang berjumlah 37, mampu memahami informasi verbal dan nonverbal dengan cara dapat mengungkapkan informasi verbal menjadi nonverbal dan dapat mengungkapkan informasi nonverbal menjadi informasi verbal berhasil memperoleh nilai minimal 7, serta nilai rata-rata kelas mengalami kenaikan.
                    Sebelum penerapan tindakan kelas, terlebih dulu diadakan tes uji coba untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Hasil tes awal pemahaman siswa terhadap informasi verbal dan nonverbal pada siswa kelas II Gb menunjukkan 15 siswa 40,54 % dari 37 siswa dinyatakan tuntas dengan nilai minimal 7, sedangkan
nilai rata-rata kelas hanya mencapai 59,40. Masalah utama yang dihadapi ialah, mereka  masih  kesulitan  memahami  informasi
                    siswa. Hasil tes siklus satu terdiri dari tes mengungkapkan kembali informasi verbal menjadi non verbal dan dari informasi nonverbal menjadi verbal menunjukkan peningkatan, 25 siswa atau 67,56 % dinyatakan tuntas, sedangkan nilai rata-rata kelas 65,24. Namun karena hasil tes belum memenuhi target penelitian, perlu dilakukan tindakan lanjutan pada siklus II.
                     Hasil tes siklus II menunjukkan 100 % siswa II GB dinyatakan tuntas dengan nilai minimal 7, hasil rata-rata kelas juga mengalami peningkatan menjadi 72,70.
                    Penggunaan metode discovery, ternyata tidak hanya mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas II  Gb SMK I Rembang   dalam  memahami  informasi verbal dan nonverbal tetapi dapat juga meningkatkan nilai  rata-rata kelas, juga berhasil meningkatkan aktivitas siswa menjadi lebih aktif dan mandiri.
                    Penggunaan metode discovery, ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam memahami informasi verbal dan informasi nonverbal pada siswa  kelas II Gb SMK I Rembang tahun ajaran 2016-2017.

Kata kunci: informasi verbal, informasi nonverbal, metode discovery


PENDAHULUAN
Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menuntut setiap siswa mampu memahami informasi yang disimak maupun yang dibacanya Informasi yang terdapat dalam wacana memiliki dua bentuk yaitu berupa informasi verbal maupum informasi nonverbal.
Informasi verbal yaitu informasi berupa data-data yang diungkapkan melalui rangkaian kalimat, seangkan informasi nonverbal yaitu informasi berupa data-data yang diungkapkan dalam bentuk grafik, denah, tabel dan matrik.
Memahami informasi verbal dan nonverbal menjadi materi penelitian  karena selain informasi verbal dan nonverbal menjadi salah satu materi yang harus diajarkan di kelas II SMK, juga karena pada umumnya siswa SMK sering mengalami kesulitan dalam menemukan dan  memahami kedua informasi tersebut. Kekurangmampuan siswa dalam memahami infonnasi verbal dan nonverbal juga dialami siswa SMK I Rembang terutama Siswa kelas II GB tahun ajaran 2016-2009.
Kekurangmampuan siswa Kelas II GB dalam memahami kedua informasi tersebut terlihat pada saat siswa harus mengungkapkan kembali informasi verbal menjadi inlormasi nonverbal. Kesalahan yang sering dilakukan siswa tersebut misalnya grafik, bagan, denah, atau tabel yang dibuat berdasarkan data-data pada informasi verbal masih belum dilengkapi dengan keterangan  grafik, judul bahkan pilihan bentuk informasi nonverbal tidak sesuai dengan karakter data yang ada. Kekurangmampuan siswa dalam mengungkapkan kembali informasi nonverbal ke dalam bentuk verbal yaitu siswa kurang mampu menggunakan kalimat baku, menggunaan bahasa dan pilihan kata serta penggunaan ejaan yang benar. Selain itu siswa juga kurang memperhatikan keruntutan kalimat dalam rnengungkapkan informasi sehingga urutan informasi kurang logis.
Berdasarkan temuan-temuan di atas penulis mencoba memperbaiki hasil belajar siswa dengan menggunakan metode discovery. Metode discovery merupakan metode yang menuntun siswa secara individu dapat menemukan, menganalisis data dalam suatu wacana. Bila metode-metode lain dapat digunakan dalam pembelajarami bahasa, metode discovery mi diharapkan juga dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam materi memahami informasi verbal dan nonverbal.
Berdasarkan latar belakang  penelitian di atas rumusan masalah dalam penelitian ini adalahdaam penelitian mi adalah: Apakah metode discovery dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas II Gb SMK I Rembang tahun ajaran 2016/2017, dalam memahami informasi verbal dan informasi non verbal
 Tujuan penelitian dalam penelitian ini, pertama , meningkatkan hasil belajar siswa kelas II GB SMK I Rembang tahun ajaran 2016/2017, dalam mengungkapkan kembali informasi nonverbal menjadi informasi verbal dan dari informasi verbal menjadi informasi nonverbal.Tujuan kedua,  Meningkatkan nilai rata-rata kelas siswa kelas II GB SMK I Rembang tahun ajaran 2016/2017, dalam mengungkapkan kembali informasi verbal menjadi informasi nonverbal dan dari informasi nonverbal menjad informasi verbal

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
Ada dua macam bentuk informasi. Pertama, Informasi verbal yaitu informasi yang berupa wacana atau  uraian kalimat. Kedua, Informasi nonverbal yaitu informasi yang bersifat kasat mata yang dapat terbaca. Bentuk informasi misalnya bagan, tabel, diagram, grafik, denah ataupun matriks .  bentuk - bentuk informasi nonverbal merupakan alat visual yang membantu pembaca memahami secara cepat informasi yang disajikan. Kelebihan alat visual  berupa bagan, tabel, diagram, grafik, denah atau matriks antara lain sederhana (simple) , Komprehensif, padat, singkat, danjelas.
Mengungkapkan kembali informasi verbal menjadi informasi nonverbal artinya mengungkapkan informasi dan data-data dari bentuk kalimat kalimat menjadi bentuk grafik ( grafik ganis, grafik batang, grafik lingkaran), tabel, diagram, denah dan matriks. Agar dapat mengubah informasi bentuk verbal menjadi bentuk nonverbal, terlebih dulu siswa Larus dapat menemukan data-data yang terdapat dalam wacana yang berisi informasi tersebut. Setelah siswa mampu menemukan data dan inlormasi dalam wacana, barulah diubah menjadi bentuk informasi nonverbal. Bentuk informasi nonverbal yang dipilih harus sesuai dengan karakter tiap-tiap bentuk informasi nonverbal.
 Mengungkapkan kembali informasi Non Verbal menjadi informasi Verbal berarti mengubah informasi berupa grafik, denah atau tabel menjadi bentuk informasi kalimat.
Bacaan yang dilengkapi dengan tabel/diagram akan membantu kita untuk dapat menemukar informasi secara cepat, selanjutnya kita dapat membuat pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam tabe1Idiagrarr, Mengubab tabel/diagram menjadi bentuk informasi verbal, maksudnya memahami tabel/diagram tersebut lalu kita tulis menjadi bentuk cerita! kalimat - kalimat secara berurutan dan jelas.
Agar dapat mengungkapkai informasi nonverbal menjadi informasi verbal, terlebih dulu kita harus memahami isi informasi dalam grafik, tabel, dan bagan tersebut. Memahami informasi nonverbal dapat dilakukan melalui beberapa tahap, sebagai berikut.
a.            Bacalah judul grafik, tabel, dan bagan.
b.            Perhatikan keterangan yang terdapat dalam gambar tersebut.
C.            Perhatikan setiap perbedaandari masing-masing gambar.
d.            Ajukan pertanyaan dan temukan jawabannya
Setelah mengetahui cara mencari informasi dalam sebuah grafik, tabel, dan bagan, bagaimana menuangkannya dalam bentuk uraian kalimat atau informasi verbal? Mengubah informasi dari sebuah grafik, tabel, dan bagan ke dalarn beberapa kalimat bertujuan membantu pembaca memahami isinya. Kegiatan menguraikan grafik, tabel, dan bagan ke dalam kalimat berarti menerjemahkan gambar menjadi wacana. Dalam bentuk wacana, grafik, tabel, dan bagan akan lebih mudah dipahami. Tanpa dijeläskan dalam bentuk uraian kalimat, pembaca akan mengalami kesulitan
Memberikan penjelasan grafik, tabel, dan bagan dalam bentuk kalimat dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain : a) Penjelasan Naratif yaitu  penjelasan tabel dengan menggunakan pengembangan antarwaktu- antarperistiwa (kronologis).b)
Penjelasan perbandingan yaitu penjelasan tubel dengan menggunakan data sebelum atau sesudahnya sebagai pembanding. Biasanya penjelasn perbandingan mi menggunakan kata hubung seperti, sebanding, la/csana, ibarat, lebih-dari pada, bagai, bagaikan, dan bak. C) Penjelasan Pertentangan atau Perlawan adalah penjelasan yang menggunakan data sebelumnya atau sesudahnya sebagai penolak atau pertentangan. Penjelasan pertentangan mi biasanya menggunakan kata hubung tetapi, melainkan, sedangkan, sebaliknya, meskipun, dan walaupun. D) Penjelasan Sebab —akibat (Kausalitas) Penjelasan sebab-akibat yaitu penjelasan tabel dengan menggunakan keterangan awal sebagai sebab dan dijelaskan dengan kalimat lain sebagai akibatnya. Kata hubung yang sering digunakan cara mi diantaranya sebab dan karena.
Metode Discovery menurut Suryosubroto (2002:192) diartikan sebagai suata prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi.
Langkah-langkah peLaksanaan metode penemuan menurut Suryosubroto (2002:197) yang mengutip pendapat Gilstrap (1975) adalah:  
(a) Menilai kebutuhan dan minat siswa, dan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realitiis untuk mengajar den gan penemuan.
(b) Seleksi penahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsipprinsip, gem ralisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan dipelajarai.
(c) Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terhbatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan
(d) Berkomunikasi dengan siswa akan membantu menjelaskán peranan penemuan.
(e) menyiapkan suitu situasi yarg mengandung masalah yang minta dipecahkan.
(f) Mengecek pengertian siswa tentang masalah yang digunakan untuL merrngsang belajar dengan penemuan.
(g) Menambah berbagai áiat peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan.
(h) memberi kesempatan kepada siswa untuk bergiat mengumpulkan dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa rnempunyai data harga bahan-bahan pokok dan jumlah orang yang membutuhkan bahanbahan pokok tersebut.
(i) Mempersilakan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiri, sehingga memperoleh tilikan umum.
) Memberi keempatan kepada siswa melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri.
(k) memberi jawaban dengan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi bila ditanya din diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya.
(1) Mernimpin analisisnya sendiri rnelalui percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang rnengarahkan dan mengidentifikisi proses.
(m) Mengajarkan ketrampilan untuk belajar dengan penemuan yang diidentifikasi oleh kebutuhan siswa, misalnya latihan penyelidikan.
(n) Merangsang interaksi siswa dengan siswa, misalnya merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan data yang terkumpul.
(o) Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupunpertanyaan tingkat yang sederhana.
(p) Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandanganan dan tafsiran yang berbeda. Bukan menilai scara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar.
(q) Membesarkan siswa untuk merpprkuat pernyataannya dengan alas an dan fakta.
(r) Memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan, misalnya seorang siswa yang bertanya kepada temannya atau guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa siswa yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri.
(s) Membantu siwa menulis atau merumuskan prinsip, atqran ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula dan yang telah dtemukan melalui strategi penemuan.
(t) Mengecek apaLah siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya teori atau teknik, dalam situasi berikutnya, yaitu situasi dimana siswa    bebas    menentukan      pendekatannya
Pada metode discovery, situasi belajar mengajar berpindah dan situasi teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan pembelajaran menggunakan metode discovery, maka cara mengajar melibatkan siswa dalarn proses kegiatan mental melalui tukar pendapat dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Penggunaan metode discovery mi guru berusaha untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Sehingga metode discovery menurut Roestiyah (2001:20) memiliki keunggulan sebagai berikut: (a) Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta panguasaan ketrampilan dalam proses kognitif! pengenalan siswa, (b) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat prib.di I individual sehingga dapat kokoh atau mendalam tertinggal dalain jiwa siswa tersebut, (c) Dapat meningkatkan kegairahan belajar para siswa.
Berdasarkan kerangka teori di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian mi adalah:  Metode discovery dapat meningkatkan basil belajar siswa kelas II Gb SMK I kembang tahun ajaran 2016/2017 dan dapat meningkatkan nilai rata- rata kelas dalam mengungkapkan informasi vrbal menjadi informasi nonverbal dan dan informasi nonverbal meijadi informasi verbal.

METODE PENELITIAN
Setting penelitian dilakukan di SMK I Rembang. SMK I Rembang terletak di Desa Magersari, kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Sekolah yang beralamat di Jalan Gajah Mada I Rembang ini, tahun 2017 SMK I Rembang memiliki empat jurusan dan 27 kelas. Salah satu kelas yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas II Gb.
Penelitian tindakan kelas ini melibatkan siswa kelas II Gb SMK I Rembang tahun ajaran 2016/2017. Jumlah siswa kelas II Gb 37 siswa, terdiri dan 29 siswa putra dan 8 siswa putri. Kelas II Gb dijadikan subjek penelitian karena di antara 9 kelas dua lainnya, kelas tersebut memiliki kemampuan bahasa Indonesia terendah dan minat belajar kurang.
Pihak Yang dilibatkan sebagai sumber data dalam penelitian ini adalah Siswa Kelas II Gb SMK I Rembang tahun ajaran 2016/2017, hasil tes awal , tes siklus I dan siklus II, hasil observasi aktivitas siswa selama mengikuti pelajaran. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ialah teknik tes dan non tes.
Tahap analisis data. Data penelitian  dibagi menjadi dua yaitu  data hasil tes informasiverbal dan nonverbal dan data pengamatan aktivitas siswa. Untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis penelitian yang diajukan, data yang telah terkumpul segera dianalisis.
1. Pengolahan data perkembangan aktivitas siswa pada setiap silkus tindakan, dalam penelitian mi digunakan rumus:
P  100%
Keterangan
P= presentasi sikap dalam persen
F= frekuensi sikap yang dilakukan siswa
R= jumlah responden
2. Untuk mengetahui presentase hasil belajar siswa digunakan rumus:
P  100%
Keterangan :
P= presentase hasil belajar
=jumlah siswa yang mendapat nilai 7 atau lebih
=jumlah responden
 Indikator kinerja  penerapan motode discovery dalam pembelajaran pemahaman informasi verbal dan nonverbal  adalah siswa dianggap berhasil bila siswa kelas II GB SMK I Rembang tahun ajaran 2016-2009 mampu memahami informasi verbal dan nonverbal dengan cara, dapat mengungkapkan informasi verbal menjadi informasi nonverbal dan dapat mengungkapkan kembali informasi nonverbal menjadi informasi verbal, dengan hasil 100 % siswa mendapat nilai minimal 7.
Selain indikator di atas penerapan metode discovery ini dapat meningkatkan nilai rata-rata kelas II Gb SMK I Rembang tahun ajaran 2016- 2017 dalam mengungkapkan informasi verbal menjadi informasi nonverbal dan sebaliknya .
Prosedur Penelitian. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK) dan direncanakan terdiri dari 2 siklus dengan menerapkan metode discovery pada setiap proses belajar mengajar. Setiap sikius (putaran) dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Untuk dapat mengetahui kemampuan awal siswa dalam memahami informasi yang dibacanya diberikan tes awal atau tes uji coba yang berfungsi sebagai evaluasi awal. Observasi awal juga dilakukan path aktivitas siswa selama PBM berlangsung. Hal itu dilakukan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas siswa dengan hasil belajar siswa, juga untuk mengetahui tindakan yang tepat oleh guru dalam rangka meminimalkan kesulitan yang 1ihadapi siswa memahami dan menemukan informasi yang dibacanya.
Model pembelajaran yang digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi siswa dengan metode discovery. Metode ini dilaksanakan dengan cara memberi kesempatan pada siswa secara individu mengamati , mencari, menelaah suatu informasi baik dari informasi verbal maupun nonverbal. Setelah memahami dan menemukan data-data yang terdapat dalam informasi verbal, diharapkan siswa dapat mengungkapkan kembali informasi tersebut dalam bentuk informasi nonverbal berupa grafik, bagan, denah atau tabel.
Sebaliknya bila siswa sudah benar-benar memahami dan menemukan data- data yang terdapat pada informasi nonverbal, diharapkan siswa juga mampu mengungkapkan kembali informasi berupa grafik, bagan, diagram atau tabel tersebut menjadi informasi verbal berupa kalimat-kalimat
Adapun prosedur Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan pada setiap sikius dengan tahapan Perencanaan, Pelaksanaan tindakan, observasi, analisis dan refleksi.
Sebelum pelaksanaan sikius I, dilakukan tes uji coba untuk mengetahui kemampuan awal siswa.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Diskripsi Kondisi Awal.  Pelaksanaan tes uji coba pada Siswa kelas II Gb SMK I Rembang tahun ajaran 2016- 2017, dilakukan tanggal 8 November 2016.Tes ujicoba dilakukan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan siswa dalam memahami informasi verbal dan nonverbal. Dalam kegiatan ini langkah awal yang dilakukan guru adalah, memberi penjelasan kepada siswa tentang bagaimana memahami informasi dan menemukan data-data yang terdapat dalam bacaan. Selanjutnya siswa diminta mengungkapkan kembali informasi yang terdapat dalam bacaan tersebut menjadi bentuk grafik/table/diagram/table.                                                                                                                                                                                                                                                                                                              

 
Kerena pemahaman bacaannya kurang, hasil informasi nonverbal yang dihasilkan kurang memuaskan. Demikian juga tes kedua : mengubah informasi dalam bentuk grafik menjadi kalimat- kalimat masih  masih kurang lengkap dll.Hasil tes diskripsi awal menunjukkan dari 37 siswa hanya 15 siswa yng berhasil mendap[at nilai 7 lebih, artinya hanya 15 siswa yang dinyatakan tuntas atau hanya 40,54 % dari keseluruhan peserta tes, sedankan nilai rata-rata kelas mencapai 59,40.
Selama pelaksanaan pembelajaran pada Siklus uji coba, hasil observasi aktivitas siswa menunjukkan hasil seperti pada tabel di bawah ini :
No.
Aspek Pengamatan
Jumlah Siswa
Persentase
1.
Siswa menjawab pertanyaan
15
40,54%
2.
Siswa mengajukan pertanyaan
15
40,54%
3.
Siswa mengemukakan pendapat
10
27,02%
4.
Siswa mengerjakan tugas
33
89,18%
5.
Siswa serius / perhatian
19
51,35%

Pelaksanaan siklus I pada 22 November 2016. Wacana yang digunakan sebagai bahan tes untuk mengungkapkan kembali informasi verbal menjadi informasi nonverbal berjudul “ Korban Kecelakaan di Jakarta pada Semester I Tahun 2007 “ yang harus diungkapkan kembali kembali dalam bentuk grafik.Tes kedua pada siklus I yaitu mengungkapkan kembali informasi nonverbal menjadi informasi verbal, menggunakan bahan berupa grafik “ Grafik Peminjaman Buku Perpustakaan SMK Harapan Bangsa Tahun Ajaran 2016-2017. Setelah dua macam tes digabungkan, hasil tes siklus I menunjukan peningkatan dibandingkan dengan hasil tes ujicoba. Dari jumlah siswa 37, 25 siswa atau 67,56% dinyatakan tuntas, sedangkan nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 65,24.
Kekurangan yang ditemukan pada tes siklus I diantaranya siswa masih bingung dalam menuliskan angka-angka interval dalam grafik, masih banyak juga grafik yang tidak dilengkapi judul dan keterangan grafik. informasi nonverbal menjadi verbal yang diungkapkan dalam bentuk kalimat, masih banyak siswa belum dapat menggunakan  ejaan yang benar, juga kurang memperhatikan keruntutan kalimat yang menunjukan runtutnya informaasi.



 
Berdasarkan observasi selama pelaksanaan pembelajaran pada Siklus I, ternyata penggunaan metode discovery juga berakibat positif  terhadap aktivitas seperti pada table di bawah ini :

No.
Aspek Pengamatan
Jumlah Siswa
Persentase
1.
Siswa menjawab pertanyaan
20
54,05%
2.
Siswa mengajukan pertanyaan
18
48,64%
3.
Siswa mengemukakan pendapat
13
36,13%
4.
Siswa mengerjakan tugas
37
100%
5.
Siswa serius / perhatian
19
51,35%

Siklus II yang dilaksanakan tanggal 6 Desember 2016, merupakan pemantapan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Seperti pada siklus I setelah didahului dengan penjelasan guru dan evaluasi hasil tes siklus, PBM yang menggunakan metode Discovery itu diakhiri dengan evaluasi.Bacaan yang digunakan pada tes I untuk mengungkapkan kembali  informasi verbal menjadi nonverbal.  Pada siklus ini bacaan yang digunakan berjudul “ Perkembangan Produksi Jagung, Beras dan Kedelai di Indonesia Tahun 1997 s.d 2000”.Tes kedua mengungkapkan kembali informasi nonverbal dalam bentuk uraian kalimat menggunakan bahan grafik “ Pendaftaran dan Daya Tampung Siswa Baru di SMK Harapan Tahun 20016-2017.

 
Pelaksanaan siklus II ternyata tidak mengecewakan.Meskipun peningkatan hasil tes siswa tidak menunjukan kemajuan yang signifikan namun berhasil memenuhi target penelitian.Seluruh siswa kelas II Gb dinyatakan tuntas, sedangkan nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan menjadi 72,70.
Pada siklus II ini, aktivitas siswa dalam proses belajar juga menunjukkan kesungguhan.Penerapan metode Discovery membuat anak bersemangat terutama dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.Hal ini ditunjukan data seperti pada table berikut :
No.
Aspek Pengamatan
Jumlah Siswa
Persentase
1.
Siswa menjawab pertanyaan
20
54,05%
2.
Siswa mengajukan pertanyaan
19
51,35%
3.
Siswa mengemukakan pendapat
15
40,50%
4.
Siswa mengerjakan tugas
37
100%
5.
Siswa serius / perhatian
22
59,45%

Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus
Penggunaan metode discovery dalam meningkatkan kemampuan siswa  kelas II SMK I Rembang dalam memahami informasi verbal dan nonverbal kan di 9, ternyata sangat tepat. Penggunaan metode ini menuntun siswa belajar mandiri.Secara individu siswa diharapakan dapat memahami, menemukan data-data, menaanalisis data dan akhirnya dapat menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

 

 
Berikut ini tabel perkembangan nilai Tes Mengungkapkan informasi verbal-nonverbal mmaupun dari informasi nonverbal-verbal pada siswa kelas II GB SMK I Rembang Tahun Ajaran 2016-2017
No.
Waktu
Tes
Jumlah Siswa
Nilai Rata-rata
Siswa Tuntas
Persentase Ketuntasan
1.
Diskripsi awal
37
59,40
15
40,54%
2.
Siklus I
37
65,24
25
67,56%
3.
Siklus II
37
72,70
37
100%

Penggunaan metode discovery dalam pembelajaran informasi verbal-nonverbal, ternyata berpengaruh positif juga terhadap aktivitas siswa selama proses belajar mengajar.Dari Diskripsi awal,siklus I dan siklus II siswa semakin aktif terutama kemandirian mereka dalam mengerjakan tugas.

 
 


PENUTUP           
Setelah melaksanakan penelitian maka diperoleh simpulan sebagai berikut. Metode discovery berhasil meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SMK I Rembang  tahun ajaran 2016/2017 dalam mengungkapkan kembali informasi verbal menjadi informasi nonverbal dan dari informasi nonverbal menjadi informasi verbal.
Metode discovery juga dapat meningkatkan nilai rata-rata kelas II GB SMK I Rembang tahun ajaran 2016/2017, dalam mengungkapkan kembali invormasi verbal menjadi infprmasi nonverbal dan dari informasi nonverbal menjadi informasi verbal
Bila  metode discovery  dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, penulis menyarankan pada para pendidik untuk mencoba menggunakan metode ini dalam pembelajaran pada mata pelajaran yang diajarkan.




























DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1999. Kerangka Acuan PTK Tahap III. Jakarta: Proyek PGSM
Harjono, Sartinah. 1988. Prinsip-prinsip Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta; Depdikbud.
Nurgianto, Burhan. 1998. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta : BPFE
Purwo, Bambang Kaswanti. 1991. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Sinoto. 2007. Penilaian Berbasis Kelas Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Semarang : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Tarigan, Henry Guntur. 1989. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
                                                . 1994. Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Indranstuti, Rosida dan Johan Wahyudi. 2016. Master modul acuan siswa Terampil II. Klaten:PenerbitAviva
                Http:#  #.Yestaki56.Space.#.Com. Macam-macam Metode Pembelajaran



 file lengkap bisa didownload :












Download Aplikasi Admnistrasi Guru :

    Subscribe to receive free email updates: